Bagai panggung sandiwara.
Mungkin sepenggal kata ini bisa menggambarkan betapa menyedihkannya Negara kita, ibu pertiwi tercinta.
Dibalik gedung yang mewah dan megah.
Dibalik kendaraan yang mewah milik pejabat.
Dibalik rasa bangga para sang murka..
Tersisi Gubuk Rakyat jelata
Tersisi tangisan Rakyat jelata.
Yang mengharapkan perubahan dari pemerintah yang telah berjanji di bawah Kitab Suci untuk mensejahterakan Rakyatnya..
Namun,
Lagak Tong kosong berbunyi Nyaring.
Yang dipukul sama orang sinting..
Tak ada yang bisa rakyat nikmati.
Hanya habis sepah memang harus di buang...
Seperti tak punya tujuan.
Rasa sedih yang Rakyat alami saat ini
Ntah dimasa nanti.
Apa iya ???
Rakyat hanya di jadikan alat kemenangan kekuasaan. Setelah itu di tindas ???
Apa iya ???
Rakyat kecil tak boleh membrontak. Jika hidupnya dan jika sang murka tak sejalan dengan keinginan Rakyat..
Memang, sang murka memang yang selalu tahu tujuan.
Memang, sang murka memang yang berkuasa.
Namun jika kami sudah tak ingin lagi mendengarkan apa yang sang murka katakan, jangan salahkan Rakyat yang terkucilkan nanti akan pergi.
Gubuk tua ibarat sebagai tempat menunggu ajal kematian.
Menunggu dan mengharapkan dari sang Murka yang tak kunjung diberikan.
Gubuk tua yang menjadi saksi bisu kepada ibu pertiwi. Betapa sadisnya kehidupan di dalam Gubuk Tua.
Gedung megah ibarat istana sang murka jahanam.
Melihat dengan mata buta.
Berbicara dengan mulut bisu.
Berjalan dengan tubuh lumpuh
Gedung megah menjadi saksi untuk ibu pertiwi.
Betapa hebatnya penghuni didalamnya.
Betapa hebat kantong sang Murka.
Betapa hebat soal pembicaraannya.
Betapa sadis perlakuannya.
No comments:
Post a Comment
Monggo berkomentar Asal jangan Sangar-sangar